Arsip

Archive for the ‘Cacing tambang’ Category

Cara Membuat Topikal Albendazole 4% (Bagian III)

Februari 23, 2008 Tinggalkan komentar

Cutaneous Larva Migrans (CLM) adalah infestasi disebabkan penetrasi dan migrasi larva nematoda pada kulit sepertiAncylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Diagnosis berdasar gambaran klinis dan gambaran lesi khas, biopsi kurang berarti karena larva sulit ditemukan. Dilaporkan 5 (lima) kasus CLM pada anak diobati dengan Topikal Albendazole %.

Bagaimana cara Membuatnya ?

Albendazole (Helben®) 400 mg pulveres ditambah aqua secukupnya (quantum sands) dan ditambahkan 10 gram desoksimetason 0,25% ointment dihasilkan albendazole 4% dioleskan 2 kali sehari secara oklusif selama 7 hari dengan hasil hilangnya eritem dan rasa gatal, burrow tidak nampak, meninggalkan bekas makula hipopigmentasi dan hiperpigmentasi serta tidak timbul efek samping. Sehingga topikal albendazole dapat dipakai sebagai obat pilihan dalam cutaneous larva migran secara aman tanpa menimbulkan efek samping.Mudah khan…..

Sumber: Perpustakaan Universitas Airlangga (journal collection)

Cutaneous Larva Migrans in an Unusual Site (Bagian II)

Februari 23, 2008 Tinggalkan komentar

Berikut ini ringkasan kasus Cutaneous larva migrans (CLM) di tempat yang tidak biasanya.Kasus ini seorang wanita 50 tahun yang menderita CLM di dinding perut depan.
SK Malhotra, Rakesh T Raj, Manjeet Pal, Vippan Goyal, Shweta Sethi
Dermatology Online Journal 12 (2): 11

Introduction
Cutaneous larva migrans is a common tropically-acquired cutaneous eruption. It presents as an erythematous, serpiginous, pruritic, cutaneous eruption associated with percutaneous penetration and subsequent migration of larvae of various nematode parasites [1]. We report a case of cutaneous larva migrans involving the anterior abdominal wall.

Clinical synopsis
A 50-year-old woman presented with complaints of an itchy eruption on the anterior wall of the abdomen of 2-weeks duration. She was farm worker who spent long hours in fields and she also had pet cats and dogs at her house. She gave no history of fever, cough, dyspnea, or bowel and bladder problem. She was treated with injections of antibiotics and antihistamines with no relief. Cutaneous examination revealed slightly raised, pink, bizarre serpentine-like eruptions with loops and a tortuous path, approximately 35 cm in length over the anterior wall of abdomen extending from lower lumbar region of right side and proceeding upwards to the right hypochondrium. There was healing at the tail end of the lesion.
The baseline laboratory parameters were normal. Biopsy was not done because it is of little value for this condition [2]. Based on the history and clinical findings, a diagnosis of extensive larva migrans was made. Treatment with ivermectin (200 µg/kg body weight) was administered; there was remission after 1 week.

Discussion
Cutaneous larva migrans is also known as sand worms, creeping verminous dermatitis, creeping eruption, plumber’s itch, and duck hunter’s itch. Numerous organisms are associated with creeping eruption, including Ankylostoma caninum, A. ceylonicum, and A. braziliense, Uncinaria stenocephala, Bubostomum phlebotomum, Gnathostoma spp., Dirofilaria conjunctivae, Capillaria spp., Anatrichostoma cutaneum, Strongyloides stercoralis, Dirofilaria repens, Spirometra spp., Gastrophilus spp., Hypoderma spp., etc. [2].
The most usual form of creeping eruption occurs when the larvae of dog or cat hook worms (Ankylostoma caninum and A. braziliense) penetrate intact, exposed skin and migrate through the epidermis [1]. The most common location is the foot, although other sites including buttocks, back, and thighs (which may have rested on contaminated sand) are susceptible [3]. Reported unusual involvement sites for larva migrans include the penis [4], anterior abdominal wall (5), and oral mucosa and in an infant. Lacking the enzymes necessary to penetrate and survive in the deeper dermis, the larvae wander a serpiginous route at a speed of 3 cm per day. Clinically, the primary lesion is a pruritic, erythematous serpiginous burrow. Although the larvae die usually in 2-8 weeks, survival up to 2 years has been reported. The incubation period ranges from 1 to 6 days. Creeping eruptions are a self-limited dermatosis. Secondary bacterial infection and eczematization are potential complications. Extensive lesions can be associated with wheezing, dry cough, and urticaria. A. caninum larvae can migrate to the small intestine and result in eosinophilic enteritis. Transient eosinophilia is also described [6]. Biopsy is of no value as the larvae advance ahead of the clinical tract. Epiluminescence microscopy is an effective noninvasive method to detect larva and confirm the diagnosis [7].
The lesions disappear in 2-8 weeks but rarely may persist for 2 years. Freezing the leading point of the burrow is an effective older method of treatment. This sometimes produces significant tissue destruction. The larva is up to 2 cm. ahead of the visible burrow; hence, treating the incorrect area will result in treatment failure.
The treatment of choice is ivermectin (a single dose of 200 µg/kg body weight) [8]. Albendazole (400 mg a day by mouth for 3 days) is also effective. An alternative choice of treatment is the topical application of 10 percent topical thiabendazole suspension 4 times a day for at least 2 days after the last sign of burrow activity. Either of the two commercially-available oral preparations may be used directly [9]. This regimen is of great efficacy and has the least toxicity. Rarely, cases are treated with oral thiobendazole.
References
1. Meffert JI. Parasitic infestations. In: Dermatology secrets 1st Ed. Fitzpatrick, Aeling J, editors. New Delhi, India: Jaypee Brothers; 1977. p. 217.

2. Vega-Lopez F, Hay RJ. Parasitic worm and protozoa.In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rooks Textbook of Dermatology. 7th Ed. Oxford; Blackwell; 2004. p. 35.17-8

3. Jelinek T, Maiwald H, Northdurft HD, Loscher T. Cutaneous larva migrans in travelers. Synopsis of histories, symptoms, and treatments of 98 patients. Clin Infect Dis 1994; 19: 1062-6

4. Kartikeyan K, Thappa DM, Jeevankumar B. Cutaneous larva migrans of the penis. Sex Transm Infect 2003; 79:500.

5. Padmavathy L, Rao LL. Cutaneous Larva Migrans – A Case Report. Indian J Med Microbiol [serial online] 2005 [cited 2005 Oct 3]; 23:135-136.

6. Masuria BL, Batra A, Kothiwala RK, Khuller R, Singhi MK. Creeping eruption. Indian J Dermatol Venereol Leprol 1999; 65:51.

7. Eisher E, Themes M, Worret WI. Cutaneous Larva Migrans detected by epiluminescent microscopy. Acta Derm Venereol 1997; 77:487-8.

8. Caumes E, Carriere J, Datry A et al. A randomized trial of ivermectin versus albendazole for treatment of cutaneous larva migrans. Am J Trop Med Hyg 1993; 49: 641-4.

9. Davis CM, Israel RM. Treatment of creeping eruption wih topical thiabendazole. Arch Dermatol 1968; 97:325-6.
© 2006 Dermatology Online Journal

Bermain Pasir Sebabkan Infeksi Cacing Tambang (Bagian I )

Februari 22, 2008 Tinggalkan komentar

Kaltim Post,22 Februari 2008
PERNAH melihat seorang anak dengan penyakit kulit yang yang menjalar seperti terowongan di kaki? Jika diperhatikan setiap hari, terowongan tersebut semakin panjang berwarna merah dan terasa gatal. Jika pernah, waspadalah! Karena bisa jadi anak tersebut terkena infeksi hewan parasit seperti cacing tambang.

Adapun jenis cacing tambang yang menyebabkan infeksi ini di antaranya bernama Ankylostoma braziliense dan Ankylostoma caninum. Cacing jenis ini hidup dalam hewan seperti anjing dan kucing.

Menurut dokter umum Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) dr Fajar Rudy Qimindra, di kalangan medis penyakit ini terkenal dengan istilah cutaneous larva migrans. Artinya, ada migrasi larva di kulit (cutan=lapisan kulit). Nama lainnya dermatosis linearis migrans ataupun sandworm disease. Dari namanya dapat diketahui bahwa beberapa penderita terserang penyakit ini ketika berhubungan dengan pasir.

”Istilah lainnya juga disebut creeping eruption (CE). Istilah ini digunakan karena pada pada invasi larva cacing tambang ini, akan timbul kelainan pada kulit berupa erupsi peradangan berbentuk lurus atau berliku-liku yang menonjol di atas permukaan kulit,” jelas pria yang akrab disapa Qimi ini.

Pada dasarnya, papar Qimi, semua orang bisa terinfeksi penyakit ini jika secara langsung terpapar dengan larva tersebut. Namun, kelompok yang beresiko tinggi biasanya berkaitan dengan pekerjaan ataupun hobi yang membawanya terkontak dengan pasir, tanah ataupun lapisan humusnya. Di antaranya wisatawan yang sedang berjemur di pantai dengan tekanjang kaki, anak-anak yang suka bermain pasir, petani, tukang kebun, penambang ataupun bekerja lain yang berinteraksi dengan tanah.

Lebih lanjut dikatakan, baru-baru ini dilaporkan, di Amerika Serikat (AS) dan Selandia Baru, angka kejadian meningkat saat musim liburan sekolah. Bahkan pada tahun 2006 di Amerika Serikat pernah terjadi wabah yaitu 22 anak terkena cacing ini dari 380 anak yang berlibur ke pantai.

Bagaimana infeksi ini bisa terjadi? Dokter yang sudah tiga bulan menjaga di UGD RSPB ini menjelaskan, awalnya, larva yang berasal dari cacing tambang hidup di dalam tubuh anjing dan kucing. Kemudian sel telur yang terdapat pada kotoran anjing dan kucing tersebut, karena kondisi lembab telur akan berubah jadi larva.

”Larva inilah yang mampu menembus ke dalam kulit. Setelah menembus ke dalam kulit, larva tinggal di lapisan tersebut beberapa minggu atau bulan atau langsung berjalan-jalan dalam lapisan kulit epidermis. Setelah beberapa jam atau hari akan timbul gejala di kulit berupa guratan merah yang mirip dengan terowongan,” terangnya.

Masuknya larva ke dalam kulit, tambah Qimi, biasanya disertai dengan rasa gatal dan panas pada tempat masuknya. Kemudian akan muncul tonjolan pada permukaan kulit, beberapa saat akan muncul bentuk yang khas yaitu tonjolan di atas permukaan kulit yang berkelok-kelok berwarna kemerahan.

Untuk selanjutnya, tonjolan kemerahan ini akan makin berkelok-kelok membentuk terowongan sesuai dengan pergerakan larva. Tiap larva membentuk lesi berkelok-kelok seperti ular memanjang dengan ukuran beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter dalam sehari.

”Rasanya sangat gatal terutama pada malam hari. Dalam sehari panjang terowongan ini kira-kira bisa mencapai 2 mm hingga 2 cm,” ungkapnya.

Dikatakan, adapun tempat yang terkena infeksi ini, umumnya terletak di kaki, sela-sela kaki, pantat, lulut, tangan ataupun pernah juga dilaporkan terjadi di dinding perut.

Lantas bagaimana penanganannya? Menurut Qimi, penyakit kulit yang disebabkan oleh larva cacing ini biasanya sembuh spontan. Karena pada dasarnya manusia bukan tempat hidupnya larva ini. Penyembuhan spontan ini tergantung pada jenis larva yang dikandung. Biasanya luka akan sembuh dalam beberapa minggu atau beberapa bulan. Tetapi dengan pengobatan yang ada bisa mempersingkat lamanya penyakit ini. Karena penyebabnya cacing maka pemberian obat anti cacing sangat dianjurkan. Obat-obatan ini bisa diminum ataupun dibuat campuran dengan cream kostikosteroid untuk dioleskan tipis, misalnya menggunakan obat topikal albendazole 4 %.

”Untuk pemberian obat minum golongan obat anticacing albendazole dosis sehari 400 mg sebagai dosis tunggal selama 3 hari. Obat pilihan lain juga banyak jenisnya tergantung peresepan dari dokter,” ujarnya.

Selain dengan obat anticacing, pengobatan cara lain dengan menyemprotan agen pembeku, seperti misalnya chlorethyl atau dryce sepanjang lesi dapat juga digunakan sebagai pengobatan penunjang. Tetapi cara ini agak sulit karena kita tidak mengetahui secara pasti di mana larva berada dan keefektifannya dilaporkan 60 – 70 % dari seluruh kasus.

”Penting diingat, selama masa pengobatan, kita harus memperhatikan pergerakan dari lesi. Jika selama waktu pengamatan tertentu tidak tampak lagi pergerakan lesi, maka larva biasanya telah mati. Terkadang untuk membantu mengamati pergerakan itu, lokasi lesi diberi tanda tinta spidol sehingga lebih mempermudah pengamatan,” ungkapnya.

Bagaimana pencegahannya? Dikatakan Qimi, mengingat sekarang musim hujan, keadaan tanah pasti lebih lembab dibanding biasanya, orangtua yang memiliki anak kecil, diharapkan untuk mencegah anak bermain terlalu lama di tanah maupun pasir, apalagi bermain tanpa menggunakan alas kaki. Anjurkanlah mereka selalu menggunakan alas kaki. Membiasakan cuci tangan dan kaki setelah bermain di luar juga pencegahan yang baik. Untuk mereka yang pekerjaannya sering berhubungan dengan tanah atau pasir, seperti petani atau pekerja kebun, anjurkan juga untuk menggunakan alas kaki saat bekerja.

”Hal sederhana lainnya adalalah bagi yang memelihara anjing dan kucing untuk membuang kotoran hewan tersebut di tempat pembuangan khusus,” tegasnya.(*/dha)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.